Eka Kurniawan Ceritakan Perbedaan Menulis Novel dan Skenario Film: Kolaborasi Terbarunya Bersama Edwin di Monster Pabrik Rambut

Eka Kurniawan menjadi salah satu penulis skenario film Monster Pabrik Rambut yang tayang mulai 4 Juni 2026


Jakarta, 25 Mei 2026 --- lensacinema.id ---Novelis Eka Kurniawan bercerita tentang perbedaan prosesnya dalam menulis novel dan skenario film. Eka sendiri diketahui sebelumnya telah menulis skenario untuk film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), sebuah film yang diadaptasi dari novel populernya. Di film itu, Eka turut menulis skenario bersama sang sutradara Edwin.

Terbaru, Eka kembali berkolaborasi bersama Edwin untuk menulis skenario dalam film Monster Pabrik Rambut, yang disutradarai Edwin. Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev.

"Orang sering tanya, apa bedanya nulis novel dan skenario? Sederhananya, menulis novel itu pekerjaan individual, sementara menulis skenario film itu pekerjaan tim. Baik sebagai co-writer, maupun dalam konteks yang melibatkan bagian produksi lain," ungkap Eka Kurniawan tentang perbedaan menulis novel dan skenario.

Eka membeberkan, salah satu tantangan saat menulis novel adalah ia harus menanggungnya seorang diri ketika mentok. Sementara, dalam menulis skenario film, ada tantangan bersama dinamika dari anggota kru/tim lain.

Proses terciptanya film Monster Pabrik Rambut bermula saat Eka mampir ke kantor Palari Films. Saat itu, Edwin bertanya kepada Eka terkait ajakan berkarya dan kembali berkolaborasi setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang sukses memenangkan 5 Piala Citra FFI termasuk untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik untuk Eka dan Edwin.

"Setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Edwin bertanya, bikin apa lagi, ya? Saya memang kadang mampir kantor Palari Films dan kami ngobrol di bagian belakang. Jawaban saya, yuk, bikin cerita dari nol," ungkap Eka.

"Saya pun mulai menulis draft pertama dari premis sederhana: bagaimana kalau kamu terpaksa kurang tidur karena lembur, terus jadi lihat hantu?" Tambah Eka.

Edwin menambahkan, banyaknya referensi Edwin bersama Eka tentang komik dan film era '80-an, menjadikan keduanya dengan mudah menciptakan sosok monster di film horor ini.

"Komik Indonesia dibumbui dengan banyak cerita-cerita komedi, action dan sedikit banyak juga horor. Kalau kita ingat-ingat, beberapa judul yang ada bahkan komik Petruk Gareng yang harusnya komedi saja bisa jadi horor," ungkap Edwin tentang referensi menciptakan sosok horor dan monster di film ini.

Tak hanya komik, film-film Indonesia era '80-an turut menyumbang referensi untuk Edwin dan Eka. Penggunaan practical effect yang terasa 'konyol', justru membekas bagi keduanya yang tumbuh di masa itu.

"Saya rasa itu juga apa terbangun dari bagaimana observasi kami sebagai filmmaker-nya, saya, Mas Eka, itu melihat kembali yang urgent dan relevan saat ini. Bahwa kita berada di sebuah kondisi yang bisa dibilang cukup horor. Karena kita seperti tidak punya kontrol terhadap diri kita sendiri, terhadap kemanusiaan kita sendiri, untuk memberikan segala sesuatunya secara berlebihan, lebih-lebih lagi kepada pekerjaan. Yang bisa berakibat fatal, dan seramnya lagi itu dinormalisasikan dan dianggap sebagai risiko, jadi dari situ lah monster di film ini tercipta," cerita Edwin.

Naskah film ini dikerjakan selama hampir dua tahun dengan belasan draft. Dari premis sederhana yang dikembangkan Eka, kemudian dibangun dari sebuah cerita yang terjadi di sebuah pabrik. Setelah Eka dan Edwin berkunjung ke sebuah pabrik wig, dan melihat gudang serta alat-alat yang terasa menyeramkan, cerita di film pun semakin solid dan terbentuk.

Penonton Indonesia akan menyaksikan horor fantasi dari ciptaan Edwin dan Eka Kurniawan di film Monster Pabrik Rambut mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia!

Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram resmi @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com.


Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. la mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas".

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah "Kabut Berduri" (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya "Dear David" (2023), omnibus "Piknik Pesona" (2022), "Ali & Ratu-Ratu Queens" (2021), "Aruna & Lidahnya" (2018), "Posesif" (2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.


Kontak 

Nama : indra Wahyudi 

Instagram : lensacinema.id

Komentar